Jumat, 20 November 2015

Pewarta Foto Antara Makassar Berbagi Ilmu di IHTJ XV

Peserta IHTJ HV memberikan plakat kepada Yusran Uccang sesaat setelah membawakan materi Foto Jurnalistik di STIE AMKOP, Jumat (20/11/2015).

Washilah--Pewarta Foto Antara Makassar Yusran Ahmad berbagi ilmu tentang foto jurnalistik pada kegiatan In House Training Journalistic (IHTJ) yang bertajuk "Bukan Sekadar Jurnalis" yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA) di STIE AMKOP, Jumat (20/11/2015).

Yusran menjelaskan mengenai jenis-jenis foto jurnalistik. "Ada sembilan jenis foto jurnalistik, antara lain Spot Photo, Sport Photo, People in the News Photo, General News Photo, General News Photo, Portrait, Science and Technology Photo, Social and Environtment, Daily Life Photo, dan Art and Culture Photo," paparnya saat membawakan materi.

Menurut Koordinator Galeri Foto Jurnalistik Antara ini foto jurnalistik ialah foto yang bermain dengan simbol-simbol. Karena di dalam simbol itulah pesan yang ingin disampaikan.

Diakhir materinya, Yusran menganggap foto bagus ialah foto yang ada. "Gambar yang bagus ialah gambar yang ada. Karena jika gambarnya tidak ada dalam sebuah peristiwa maka itu omong kosong," tutupnya.

Laporan| Sri Wahyudi Astuti

Kamis, 19 November 2015

Pimred Pojoksulsel.com: Media Online itu Bikin "Gila"

Pemimpin Redaksi Pojok Sulsel Andi Idchan Pasinringi membawakan materi di acara In House Training Journalistic (IHTJ) XV di STIEM AMKOP, Jumat (20/11/2015).
Washilah--"Sudah siap jadi gila?" tanya Pemimpin Redaksi (Pimred) Pojoksulel.com Andi Idchan Pasinringi kepada peserta In House Training Journalistic (IHTJ) saat membawakan materinya di STIEM AMKOP Makassar. Jum'at (20/11)

Ia mengatakan, menjadi jurnalis media online harus siap menjadi gila karena dituntut kecepatan.Jurnalis harus setiap saat melakukan uploading berita untuk mengejar kecepatan.

"Media online Tuhannya adalah Kecepatan," katanya.

Idchan juga menambahkan pendapatan media online melebihi media cetak. Pendapatan tersebut bukan hanya berasal dari iklan, tetapi juga berasal dari google.

Laporan| Sri Wahyudi Astuti

BACA JUGA:

Pimred Pojok Sulsel Bawa Materi di IHTJ XV UKM LIMA

Pemimpin Redaksi Pojok Sulsel Andi Idchan Pasinringi membawakan materi di acara In House Training Journalistic (IHTJ) XV di STIEM AMKOP, Jumat (20/11/2015).
Washilah--Pemimpin Redaksi Pojok Sulsel Andi Idchan Pasinringi membawakan materi Media Online di acara In House Training Journalistic (IHTJ) XV yang bertajuk "Bukan Sekadar Jurnalis" di STIEM AMKOP, Jumat (20/11).

Dalam meterinya Idchan membandingkan antara media online dengan media cetak. "Kalau media online, peristiwa hari ini bisa langsung disebar meskipun peristiwa tersebut masih berlangsung. Sementara media cetak harus menunggu besok," kata alumni mahasiswa Universitas Hasanuddin ini.

Idchan menambahkan pembaca media online perhari khususnya Pojok Sulsel mencapai puluhan ribu. "Pembaca kami itu alhamdulillah sudah mencapai 40 ribu sampai 50 ribu, sementara media cetak khususnya di Makassar belum ada pembaca yang mencapai ribuan," tutupnya.

Laporan| Muhaimin

BACA JUGA:

Ini Alasan Peserta IHTJ Bergabung di UKM LIMA

 Peserta IHTJ XV Nur Isna menjelaskan alasannya bergabung di UKM LIMA di STIEM AMKOP, Jumat (20/11/2015).
Washilah--Reporter Pojok Sulsel Islamuddin Dini memberikan materi Dasar-dasar Jurnalistik pada In House Training Journalistic XV yang digelar UKM LIMA di STIEM AMKOP, Jumat (20/11).

Di sela-sela materinya, Ketua Umum UKM LIMA periode 2012 ini memberikan pertanyaan kepada para peserta mengenai tujuan mereka masuk ke UKM LIMA.

"Apa tujuan kalian masuk ke organisasi ini? Saya minta satu dari laki-laki dan satu dari perempuan," tanyanya.

Mahasiswa Jurnalistik Erlangga mengatakan ia ingin menjadikan Washilah sebagai batu loncatan, sekaligus sebagai tempat untuk menimbah ilmu.

Lain halnya dengan Mahasiswa Ilmu Hukum Nur Isna. Isna menjelaskan kalau ia tidak ingin terjebak dalam ilmu yang berkaitan dengan hukum saja. Isna juga mengaku bahwa ia menyukai hal tulis menulis. "Saya suka menulis, dan di sini (Washilah), saya bisa sampaikan gagasan dari apa yang saya tulis," tutupnya.

Rekrut Anggota Baru, UKM KSR PMI Adakan Diksar

logo KSR PMI
Washilah—Dalam rangka perekrutan anggota baru, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSR Palang Merah Indonesia (PMI) unit 107 mengadakan kegiatan Pendidikan Latihan Dasar (Diksar) di aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lt. tiga UIN Alauddin. Kamis (19/11).

Ketua Umum UKM KSR-PMI Rahmi Ramadhani mengatakan rangkaian Diksar yang berlangsung selama dua hari (19-20/11) ini, melalui tiga tahap seleksi. Pertama, tes wawancara, tes kepribadian, dan tes kesehatan. 

Sementara itu, peserta yang melakukan pengembalian formulir sebanyak 84 orang dan yang mengikuti Diksar sebanyak 50 orang. 

"Semoga dengan adanya tes ini terseleksi betul kader-kader yang bergerak dibidang kemanusiaan,” harap Rahmi.

Laporan| Fahri Setiadi


“Ditodong” Tiga Kegiatan Besar, Prof Musafir: Saya Baru Sadar

Rektor UIN Alauddin Prof Musafir saat memberikan sambutan pada pembukaan IHTJ XV di LT Universitas, Kamis (19/11/2015)/Muhaimin
Washilah--Pada pembukaan acara In House Training Journalistic (IHTJ) XV yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA), Direktur Fajar TV Yusuf AR mengusulkan tiga kegiatan besar kepada Rektor UIN Alauddin Prof Musafir.

"Sebagai media kampus, UKM LIMA berencana menggelar festival pers berskala nasional tahun depan, bagaimana menurut pak rektor?" usulnya, Kamis (19/11).

Setelah acara festival tersebut, lanjut Eks Ketua Umum UKM LIMA bagusnya dilaksanakan penerbitan buku proseding hasil seminar nasional tentang reformulasi gerakan pers kampus. Serta pengadaan channel Alauddin TV.

Yusuf menambahkan Pengadaan Channel tersebut merupakan usulan lama yang sampai saat ini belum terealisasi. "Ini sebenarnya usulan lama. Berhubung pak rektor ada di sini, jadi saya kembali usulkan," kata Yusuf yang membawakan orasi ilmiah pada pembukaan acara yang bertajuk "Bukan Sekadar Jurnalis" ini.

Prof Musafir yang membuka acara ini langsung menanggapi usulan Yusuf. "Iya... Setuju.. Itu ide bagus," tanggapnya.

Musafir menambahkan kalau dirinya baru sadar telah "ditodong" tiga usulan brilian dari Yusuf. "Hanya dalam waktu 5 menit, saya ditodong 3 ide. Dan saya baru menyadarinya sekarang," katanya.

Pernyataan rektor tersebut disaksikan anggota UKM LIMA dan peserta IHTJ XV di Lecturer Teater (LT) Universitas.

Laporan| Muhaimin

BACA JUGA:

Didesak, Rektor Cabut Surat Edaran

Rektor UIN Alauddin mengklarifikasi surat edaran yang dikeluarkannya di depan sejumlah aktivis mahasiswa. Kamis (19/10) Foto: Afrilian
Washilah--“Cabut! Cabut! Cabut!” Teriak sejumlah aktivis mahasiswa UIN Alauddin yang menuntut pencabutan surat edaran rektor Nomor: Un.06.2/Ks.00/931/2015. 

Sementara itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Sahiruddin Ali menyuarakan dengan lantang, apabila Rektor tidak segera mencabut surat edaran yang dikeluarkannya, maka tuntutan akan terus berlanjut.

Menanggapi tuntutan yang diungkapkan mahasiswa, Kamis (19/11) Rektor UIN Alauddin Prof Musafir MSi klarifikasi hak-hak yang diminta.

Ia mengklarifikasi tentang surat edaran yang menyatakan bahwa mahasiswa dilarang mendirikan balai-balai di sembarang tempat dan organisasi ekstra tidak boleh memasang simbol-simbol di dalam kampus.

Mengikuti keinginan mahasiswa, surat edaran tersebut dicabut dengan membuat beberapa kesepakatan. Rektor menginginkan agar gubuk-gubuk (balai-balai) yang dibangun tidak terkesan kumuh dan menjamin tidak akan ada konflik antar mahasiswa dari organisasi daerah tertentu.

“Kita sebenarnya hanya ingin aktivitas organisasi ekstra itu jangan sampai berbenturan. Kalau terjadi benturan antar kelompok mahasiswa, kita semua yang rugi,” katanya.

Tak hanya itu, mereka juga mendesak agar rektor menerbitkan surat edaran tentang diberlakukannya masa studi S1 selama tujuh tahun. Hal ini disesuaikan peraturan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) yang awalnya hanya lima tahun, karena tuntutan Uang Kuliah Tunggal-Biaya Kuliah Tunggal (UKT-BKT) kini direvisi menjadi tujuh tahun.

Menjawab desakan tersebut, rektor mengatakan setuju untuk mengembalikan masa studi S1 selama tujuh tahun. “Tujuh tahun ya... tapi kalau lewat tujuh tahun, saudara akan di DO,” ucapnya.

Mendengar keputusan tersebut, sontak para mahasiswa bertepuk tangan.

“Oke kawan-kawan sekalian, sebagai simbolik bahwa surat edaran ini sudah dicabut, surat ini saya akan robek,” teriak Sahiruddin sembari merobek surat edaran tersebut.

Laporan| Nurfadhilah Bahar

BACA JUGA: