Minggu, 06 Desember 2015

FDK Gelar Malam Ramah Tamah dan Temu Alumni

FDK Adakan malam ramah tamah dan temu alumni di Gedung Training Center UIN Alauddin. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara milad FDK. Sabtu (05/12)
Washilah--Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengadakan malam ramah tamah fakultas yang dirangkaikan dengan temu alumni. Kegiatan tersebut  digelar di Gedung Training Center Lantai 7 UIN Alauddin Makassar. Sabtu (05/12)

Acara yang diawali dengan persembahan tari padduppa dan dilanjutkan dengan persembahan Qasidah jebolan dari Grup Nada dan Dakwah (GND),  atraksi pencak silat oleh mahasiswi KPI serta penyerahan hadiah lomba Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Dekan FDK Dr Rasyid Masry SAg MPd MSi MM mengatakan bahwa "Bagi alumni FDK dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diharapkan mampu berkompetisi dengan negara lain," ujarnya.

Salah seorang alumni FDK, Herman berharap, "FDK kedepan memiliki daya saing bukan hanya dari segi teoritis tapi juga aktualitasnya di masyarakat.”

Laporan | Sri Yusnidar

Ini Kali Pertama FDK Rayakan Milad

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi memberikan sambutannya pada malam puncak Milad FDK. Kegiatan ini diadakan di Gedung Training Center UIN Alauaddin Makassar. Sabtu (05/12)
Washilah--Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) rayakan Milad yang ke 45 di Gedung Training Center UIN Alauddin Makassar. Acara ini mengusung tema  "Restorasi dakwah kultural di era masyarakat informasi". Sabtu (05/12)

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof Dr Aisyah Kara MA PhD. Selain itu, turut hadir pula Prof Dr Faisal Bakti PhD dan Prof Ahmad M Sewang sebagai narasumber dalam seminar nasional alumni FDK angkatan pertama, serta dosen dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Dekan FDK Dr Rasyid Masry SPd MSi MM mengatakan bahwa ini kali pertamanya FDK merayakan milad serta launching Mars FDK ciptaan Erwin Jaya mahasiswa Manajemen Dakwah.

"Momen seperti ini mahal atau spesial karena FDK sudah mencapai usia 45, dan hari pertama kalinya dirayakan. Di usianya yang ke 45 ini dibagi menjadi dua periode, dimana periode pertama itu Namanya fakultas dakwah sekitar 20 tahun. Periode kedua fakultas dakwah dan komunikasi selama 25 tahun," tuturnya.

Dekan FDK ini juga menjanjikan bahwa pada tahun 2016 akan ada penyediaan liquid crystal display (LCD) dan air conditioner (AC) di setiap ruang kuliah.

Laporan | Sri Yusnidar

Jumat, 04 Desember 2015

Antropologi Manusia Batu Lotong

tekno.analisadaily.com
Membaca manusia Batu Lotong dari sudut pandang antropologi menjadi sebuah studi kajian yang tentu sangat menarik, sebab Batu Lotong bagai gadis mulampekke (baca beranjak gadis atau remaja) sehingga mungkin dia belum begitu mengenal pergaulan secara modern. Karena kesehariaannya masih berada pada lingkungan yang masih kurang bersentuhan pada teknologi-teknologi modern. Singkatnya Batu Lotong menjadi rebutan bukan hanya cowok maco seperti antropologi yang ingin mendekatinya secara ilmu kemanusiaan, bahkan psikologi tak segan-segan menyenternya dari jauh untuk membaca kejiwaannya tetapi singkatnya kedua cowok itu antara antropologi dan psikologi yang hanya membawa cinta abstrak maka sang gadis (baca Batu Lotong) tak tertarik sama sekali sebab dia telah dibisiki oleh temannya bahwa ada cowok yang jauh lebih dari pada antropologi dan psikologi yakni sang cowok (baca peralatan teknologi modern) yang memiliki mobil truk sehingga Batu Lotong tak lagi jalan kaki yang sangat melelahkan.

Yang membuat sang cowok antropologi dan psikologi tak habis pikir dengan sang pujaan hati (baca Batu Lotong), sebab peralatan teknologi modern merekalah yang membuat tetapi kenapa Batu Lotong malah tertarik kepada si teknologi ? yang pada hakikatnya lahir dari buah tangan antropologi dan psikologi. Tetapi, yang membuat keduanya merasakan kemirisan bahwa ternyata kini buatan mereka berdua berubah menjadi saingan, padahal sebelumnya sang teknologi dibuat untuk melayani mereka tetapi kini malah mereka yang harus melayani teknologi. Suatu hari antropologi dan psikologi bertemu dengan Batu Lotong yang datang mengunjungi teknologi modern yang akhirnya antropologi dan psikologi bertanya kepada Batu Lotong, “mengapa engkau lebih memilih teknologi modern dibandingkan kami berdua ?”, dengan begitu santai Batu Lotong menjawab bahwa “aku memilih teknologi modern karena dia jauh lebih sempurna dibandingkan kalian berdua”, mendengar jawaban itu membuat keduanya merasa tersinggung sebab bagaimanapun juga teknologi modern lahir dari buah jerih payahnya, hingga bermaksud untuk menjabarkan kebenaran yang sesungguhnya. “Batu Lotong perlu kau ketahui bahwa teknologi modern kamilah yang buat seharusnya kamu memilih salah satu dari kami berdua, karena teknologi modern sejak awal kami desain sebagai persembahan cinta kepadamu”, celotehnya dengan begitu mendalam sampai-sampai melelehkan air mata. Dari air mata keduanyalah maka lahir sebuah perspektif baru untuk kembali menaklukkan hati si Batu Lotong, dari air mata antropologi lahirlah animal symbolicum dan dari air mata psikologi lahirlah psikologi humanistik. Secara hakikat hal tersebut lahir untuk menyadarkan si Batu Lotong bahwa salah satu diantara mereka berdualah yang layak untuk dipilih.

Hari demi hari hubungan asmara si Batu Lotong dengan teknologi modern begitu erat sehingga tiada hari tanpa cinta, teknologi modern mempersembahkan berbagai macam kesenangan kepada Batu Lotong untuk lebih meyakinkah bahwa dia memang pantas buat dipilih. Singkatnya si Batu Lotong telah dibutakan oleh berbagai jenis peralan dan lebih jauh efek dari cinta buta itu membuat si Batu Lotong makin manja, kalau dia dulu terkenal sebagai seorang gadis yang rajin tetapi ketika jatuh hati pada teknologi modern maka semua kebiasaan-kebiasaan Batu Lotong yang biasanya secara mandiri mampu dia lakukan kini semua itu digantikan dengan kemanjaan dengan mengandalkan si teknologi modern. Yang lebih ironi lagi tabiat si Batu Lotong yang mandiri secara derastis berubah menjadi gadis yang mengalami ketergantungan, dia tak bisa jauh-jauh dari sang kekasih dan hal ini menjadi buah bibir orang-orang sekampung sebab menurut adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang si Batu Lotong yang bernama sosiologi yang berpasangan dengan budaya hingga lidah keturunannya biasa menyeburnya pesan-pesan nenek matoa (orang tua) sosiologi budaya bahwa seorang anak gadis pantang duduk berduaan maupun sering sama apabila belum menikah sebab ketika itu dilanggar maka akan terjadi murka dari puange (tuhan).

Pembicaraan orang-orang sekampung tentang si Batu Lotong yang sering berdua-duaan bahkan begitu bermesraan dengan teknologi modern, sebetulnya telah disadari oleh kedua orang tua mereka yakni i (penanda jenis kelamin laki-laki) philo dan we (penanda jenis kelamin prempuan bugis) shopia dan bahkan sering kali mengingatkan bahwa apabila tindakan berdua-duaan tersebut terus dilakukan akan mengandung konsekuensi dari puange (tuhan). Namun, tampaknya si Batu Lotong hanya menganggap nasehat leluhur itu bagai angin lalu dan bahkan menantang “kalau memang nasihat atau pesan-pesan leluhur itu berlaku maka tentu sudah lama hukuman dari puange (tuhan) terjadi tetapi nyatanya itu tidak terbukti sama sekali”, mendengar perkataan itu kedua orang tuanya i philo dan we shopia merasa khawatir dengan kecongkakan putrinya tersebut.

Maka i philo dan we shopia akhirnya secara bulat menemui para pangulu ade’ (penghulu adat) untuk mengutarakan kondisi yang menimpa putrinya dan segaligus memikirkan solusi terbaik tentang masalah tersebut. Akhirnya setelah mendengar secara bijak dan bertemu pada satu titik kesempulan maka akhirnya pangulu ade’ atau penghulu adat memutuskan, “i philo dan we shopia apa yang menimpa putrimu si Batu Lotong pada dasarnya adalah perasaan cinta yang mendalam pada seorang pemuda yang bernama teknologi modern itu hal yang wajar tetapi perwujudan hubungan cinta diantara mereka berada diluar kebiasaan adat kita. Sehingga untuk tetap menjaga tradisi kampung maka kami dari pangulu ade’ mengambil keputusan untuk menikahkan keduanya tetapi ada satu keputusan lagi namun sebelumnya apakah i philo dan we shopia mau menerima itu ? sebab jujur keputusan yang satu ini berat”, papar pangulu ade’ dengan penuh tatapan serius sehingga membuat i philo dan we shopia merasa bertanya-tanya segaligus bercampur rasa takut, karena tidak biasanya seseorang mendapatkan dua sanksi adat segaligus kecuali apabila itu memang termasuk pelanggaran adat yang besar. Karena rasa was-was akhirnya keduanya memberanikan diri untuk bersuara “sebagai bagian dari adat kami memahami bahwa setiap pelanggaran adat wajar untuk mendapatkan sanksi, sehingga kami tentu sudah siap dengan berbagai kondisi maupun konsekuensi dari hukum adat. Sebab keputusan pangadereng (hukum adat tentang etika) menjadi sebuah keharusan untuk diterimah itu wajib”.

Suasana yang begitu tegang menyelimuti pertemuan itu sebab tidak biasanya pangulu ade’ mengambil keputusan terlalu lama, “sanksi adat yang mesti diterima oleh si Batu Lotong atas perbuatannya selain dinikahkan dengan teknologi modern maka sanksi kedua Batu Lotong dikenakan sanksi ri paopani tanah (dianggap sudah mati dengan diusir dari kampung), segaligus ini menjadi pelajaran bagi yang lainnya bahwa ade’ (adat) masih ada”, jelas pangulu ade’ dengan suara penuh wibawah. Keputusan ini tentu menjadi keputusan yang begitu berat diterima oleh i philo dan we shopia tetapi tradisi adalah sebuah aturan yang menjadi pengatur dalam tata hidup bermasyarakat maka pantang untuk ditolak, apalagi melakukan tindakan anarkis untuk menolak semua itu, mungkin inilah tingkat humanistik paling luhur ala masyarakat kampung. Akhirnya sesuai dengan kesepakatan maka hari pernikahan si Batu Lotong dengan teknologi modern telah ditentukan, namun ada yang aneh terjadi dan mungkin dianggap berada diluar kewajaran sebab hari pernikahan keduanya bertepatan dengan hari kaddaro (hari yang dianggap buruk). Berita ini tersebar luas hingga keseluruh kampung bahkan sampai berbagai wanua (negara), yang paling syok berat adalah si antropologi dan si psikologi sebab bagaimana pun juga Batu Lotong merupakan cinta pertama yang membuat mereka mabuk kepayang karena cinta tetapi nasi telah berubah menjadi bubur.

Tetapi, ada hal yang mewarnai proses pernikahan Batu Lotong dengan teknologi modern yakni adanya pemberian sebidang tanah yang terletak di pinggiran sungai yang juga terdapat bukit yang mencolok ke sungai, hal tersebut diberikan oleh pangulu ade’ mengingat jasa-jasa keluarganya yang masih madara takkue (bangsawan murni) sehingga walau dianggap telah mati tetapi tetap diberikan sebidang tanah. Namun, konsekuensi lainnya mereka tidak diperbolehkan mengunjungi kampung dan keluarganya begitu sebaliknya. Setelah melangsungkan pernikahan ala to sama (orang kebanyakan yang bukan keturunan bangsawan) tanpa simbol kebesaran keluarganya mereka harus berpisah dengan keluarga, dari raut wajah si Batu Lotong terlihat jelas linangan air mata yang tumpah ruah di cawan wajahnya sebab kebahagiaan tertinggi dari seorang gadis kala sang pujaan datang meminang maka hari itu bagaikan lebih baik dari pada seribu bulan. Tetapi, kenyataan pahit yang diterimanya membuatnya harus terpisah dengan keluarga ang seharusnya menemani dihari itu, bukan malah menyendiri dari keramaian.

Dari selala-sela rongga mulut i philo sang ayah si Batu Lotong keluar sebuah hembusan angin yang ketika telinga manusia-manusia disekitanya mendengarnya maka orang-orang berkata betapa berat kata-kata itu harus keluar dari mulut sang ayah pada anaknya “palini alemu (sekarang mandirilah)”, setelah mendengar kata-kata itu maka si Batu Lotong dan teknologi harus pergi berdua sepasang suami istri yang bagai binatang yang terbuang dari kumpulannya di hari yang sangat bahagia menjadi hari terakhir mereka bertemu dengan kedua orang tuanya.

Perpisahan itu rupanya membuat dendam tersendiri dalam hati si teknologi modern sebab pada dasarnya tujuan utama mencintai si Batu Lotong selain kemolekan tubuh dan paras ayunya, menyimpan rencana lain yakni merebut tanah adat sebab menurut alat pendeteksi di tanah adat tersebut terdapat sumber minyak yang melimpah ruah. Karena alasan itulah rupanya si teknologi modern rela berkorban untuk mengantar si Batu Lotong keliling kampung dengan cara seperti itulah untuk mendeteksi potensi sumber daya yang dimiliki kampung si Batu Lotong. Saat malam pertama tiba bukan belaian kemesraan yang didapat oleh si Batu Lotong malah kemolekan tubuhnya dan paras ayunya direnggut oleh alat teknologi modern yang berkekuatan mesin canggih yang melukai kemolekan tubuhnya dengan mengeruk keperawanan sungai Batu Lotong dan merusak paras ayunya Batu Lotong dengan membongkar batu digunung yang juga turut melibas pohon-pohon, dengan sekejap si teknologi modern merubah perawan si Batu Lotong menjadi seorang nenek peot yang renta segaligus penuh penyakitan.

Si teknologi modern bukan hanya melukai dan merusak keperawanan si Batu Lotong tetapi yang lebih bias dari itu semua, hubungan birahi keduanya melahirkan seorang anak si robot dengan geng dominan sang teknologi modern. Si robot tak mengenal batasan adat apalagi hal-hal yang bersifat spiritual semua sumber daya alam dieksploitasi secara brutal dan yang paling memilukan segaligus menyayat hati sebab si robot malah mengekspansi tanah adat, sehingga masyarakat yang ada kemudian dijadikan sebagai buruh-buruh di pabrik-pabrik yang malah turut menikmati kemolekan daratan, air dan gunung-gunung yang mengandung minyak yang merupakan tubuh dari ibunya sendiri yang tak lain si Batu Lotong.

Batu Lotong merupakan simbol dari wajah kemolekan alam yang kemudian manusia berupaya mengeksploitasi alam dengan mesin-mesin teknologi modern, pada awalnya manusia yang menghendaki eksploitasi tetapi lambat laun manusia yang awalnya pengendali tetapi secara derastis alat-alat teknologi modernlah yang mengendalikan manusia, buruh sebagai simbol manusia yang ditaklukan oleh robot-robot mesin pabrik dan bahkan waktu istirahatnya ditentukan oleh kondisi mesin bukan pada kondisi manusia. Persaingan antara antropologi dan psikologi untuk menaklukan si Batu Lotong tetapi keduanya gagal bersaing dengan teknologi modern yang tak lain adalah ciptaannya sendiri.

Oleh: A Hendra Dimansa
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Kamis, 03 Desember 2015

HMJ Pendidikan Fisika Gelar Lomba Galaksi 2015

Washilah—Tak hanya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang meriah dengan berbagai macam lombanya. Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) pun tak mau ketinggalan. Bedanya, lomba yang diberi nama Galaksi 2015 ini ialah antar siswa SMA/MA sederajat.

Kegiatan bertajuk “Mengasah potensi sains dalam membangun peradaban bangsa yang unggul dan berprestasi” ini berlangsung di Lecturer Teatre (LT) FTK selama dua hari, Kamis-Jum’at (03-02/12).

Adapan macam lomba yang dilaksanakan adalah lomba cerdas cermat, akustik, dan lomba eksperimen.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan serta dihadiri Ketua jurusan Pendidikan Fisika, dosen, dan siswa-siswi SMA se-Makassar dan Gowa.

Ketua panitia, Muhammad Alif Imran berharap agar ke depannya sekolah yang ikut berpartisipasi bukan hanya dari Makassar dan Gowa, tapi juga di seluruh sekolah yang ada di Sulawesi Selatan.

"Saya harap ke depannya itu bisa lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Laporan| Syahrul

SB eSA Tampilkan Beragam Karya di Malam Puncak Milad ke-22

Suasana Malam puncak milad UKM SB eSA ke 22 di Gedung PKM UIN Alauddin Makassar. Kamis (03/11)
Washilah—Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) terlihat gelap. Cahaya hanya menyoroti panggung pementasan di lantai satu Gedung PKM itu. Dua orang –laki-laki dan perempuan—mengenakan pakaian adat di atas panggung. Dengan lantang, mereka menyuarakan malam puncak milad UKM Seni Budaya (SB) eSA UIN Alauddin Makassar yang ke-22 tahun. Kamis (03/11)

“eSAisme, Menyapa dengan Karya.” Itulah tema milad SB eSA yang berlangsung meriah.

Ketua pantia, Fahri mengatakan eSAisme berarti mereka berkarya berdasar paham yang telah mereka anut.

Sementara itu, Pendiri UKM SB eSA Hamdan mengatakan, tiap tahun SB eSA menargetkan ada dua buah karya berupa buku yang diterbitkan. Namun, hal tersebut tergantung dari kemampuan dan kreativitas anggota eSA sendiri.

“Karya tidak harus berupa buku, bisa berupa karya seni yang lain,” ucapnya.

Malam puncak tersebut menampilkan beragam cabang seni, diantaranya musik, tari, teater, serta pemutaran film karya anggota SB eSA.

Laporan| Afrilian C Putri

Rabu, 02 Desember 2015

Nikmati Layanan Tiket Bus Online Karya Mahasiswa TI

Launching layanan tiket bus online berbasis website.
Washilah--Friendstech, yang terdiri dari mahasiswa Teknik Informatika (TI) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar merancang penyedia layanan tiket bus online berbasis website bernama tiketbusku.com.

Layanan untuk seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) ini diluncurkan di sebuah cafe di Jalan Sultan Alauddin.  Selasa (01/12)

Tiketbusku.com lahir dari ide kreatif enam mahasiswa yaitu Kasman Suherman, Muhammad Fadly, Alfian, Ahmad Dedy, Magfirah Suyuti, dan Nureksanita.

Chief Executive Officer (CEO) Tiketbusku.com, Kasman Suherman mengatakan gagasan membuat layanan ini berawal dari terkendalanya pembelian tiket bus yang harus dilakukan dibeberapa titik wilayah di Makassar,

"Ketika mau keluar daerah dan melakukan perjalan, kita terkendala dengan pembelian tiket. Kita harus datang ke terminal atau ke tempat pembelian tiket kemudian menanyakan harga tiket, tujuan dan memilih kursi. Kenapa tidak kita membuat tiket pembelian online yang bisa diakses dimana saja," ujar Kasman.

Tak hanya itu, layanan yang dibuatnya juga merupakan penunjang visi dan misi pemerintah kota Makassar, yakni mewujudkan Makassar sebagai smart city.

"Karena kita ini berasal dari teknik informatika yang berhubungan langsung dengan perkembangan smart city," tambah kasman.

Kini, layanan tiketbusku.com sudah siap digunakan. Ia pun menghimbau kepada masyarakat UIN Alauddin agar turut memanfaatkan website ciptaan mereka.

Laporan| Indra Ahmad

BACA JUGA:

Selasa, 01 Desember 2015

Milad FDK Gelar Pertandingan Futsal Antar Pimpinan dan Mahasiswa

Pertandingan futsal antara pimpinan dan mahasiswa di lapangan futsal depan PKM UIN Alauddin Makassar
Washilah--Menyabut milad ke-45, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar melaksanakan pertadingan futsal antara pimpinan FDK melawan Dewan Mahasiswa (Dema) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sejajaran di Lapangan Futsal depan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Kegiatan yang merupakan rangkaian acara dari milad FDK bertajuk “melalui  Porseni  FDK, kita tingkatkan sportifitas dan kebersamaan”. Senin (01/12)

Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 1-3 atas kemenangan Dema dan HMJ sejajaran. Ketua HMJ Ilmu Komunikasi, Ridwan  mengatakan bahwa "menurut saya keren karena kegiantan seperti ini jarang dilaksanakan dan merupakan ajang seru-seruan antara dema, ketua HMJ dengan pihak birokrasi FDK.”

Ia juga berharap bahwa “Semoga kegiatan seperti ini sering-sering di laksanakan,” tutupnya.

Laporan |Muh. Syahrul