Senin, 03 Februari 2014

Adikku...

Oleh | Muh Fathul Amin/Mag
Adik ku
Kau begitu indah dipandang
Kuning langsat kulit mu, merdu suara mu, lemmah lembut ketika engkau memanggil nama ku, Paras wajah mu yang mempunyai nilai jual yang tidak sedikit, membuat semua jantan tidak mampu untuk mengeppakkan sayapnya lagi.

Engkau manis seperti madu yang dihisap oleh kumbang yang beterbangan di taman bunga bougenvill, membuat betiana irih dengan perilaku si jantan terhadap mu.

Adik ku yang ku sayang, kemarin kamu selalu memanggil nama ku dengan sapaan yang jarang aku dengar sebelumnya dari orang lain, begitu manis panggilan yang engkau sapakan kepada ku membuat jantung ini berdebar tidak karuan, mungkin itulah sifat alamiah dari seorang manusia yang diciptakan oleh tuhan, dan hari itu aku merasakan hal yang jarang aku rasakan sebelumnya.

Namun sekarang sapaan itu tidak lagi aku dengar keluar dari bibir yang dulunya rindu untuk menyapa, aku tidak tahu kenapa jantan sudah enggan lagi untuk menghisap madu di taman bunga bougenvill, betinapun merayakan kesenangannya dengan mengepakkan sayap indahnya sekali, dua kali bahkan tiga kali, angin topan hayyan telah membuat semua berubah 360 derajat.

Aku rindu dengan sapaan itu, walau begitu si jantan tetap setia menunggu taman bunga bougenvill kembali mengahasilkan madu yang manis dan bisa di nikmati oleh semua mahluk di jagad raya ini.

Bangkitkan Semangat Pandu Nasioanal Dengan Kegigihan Bapak Pandu Sedunia

Oleh | Muh Fathul Amin
Lord Robert Stevenson Smyth Baden Powel of Gilwell siapa yang tidak mengenal bapak pandu sedunia ini, yang di Indonesia biasa disapa dengan sebutan Baden Powel, sedikit bercerita tentang sejarah founding father of scout (pendiri pandu dunia), Baden Powell dilahirkan di London 22 Februari 1857 adalah seorang tentara Angkatan Darat Inggris yang memulai karirnya sebagai pasukan Hussars ke 13 di India. Sejak itu Baden Powell menunjukkan prestasi yang baik sehingga beberapa wilayah yang pernah menjadi daerah tugas kemiliterannya cukup sukses. Seperti di daerah Afganistan, di wilayah Zulu, Afrika Selatan dan pedalaman Ashanti, bagian negara Ghana, Afrika. Dari pengalaman itu Baden Powell menerbitkan sebuah buku berjudul “Aids To Scouting”. Buku tersebut merupakan kumpulan cerita pengalamannya selama menjalankan tugas sebagai tentara dengan tujuan memberikan petunjuk kepada tentara muda Inggris agar dapat melakukan tugas penyelidikan (investigasi kemiliteran) dengan baik.

Mr. William Smyth adalah seorang pemimpin Boys Brigade (tentara muda) di Inggris menilai buku yang ditulis Baden Powell sangat menarik. Ia kemudian meminta agar Baden Powell bersedia melatih anggotanya. Ketika itu Baden Powell pun langsung menerima tawaran Mr. William Smyth. Dua puluh satu pemuda dikumpulkan dari kesatuan Boys Brigade yang berada diberbagai wilayah di Inggris untuk melakukan perkemahan dalam rangka pelatihan di Pulau Brown Sea yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juli – 02 Agustus 1907. Perkemahan di Pulau Brown Sea tersebut menjadi cikal bakal kepanduan dunia dan menjadi kegiatan kepanduan pertama di dunia dalam catatan sejarah.

Di tahun berikutnya Baden Powell berupaya menyebar luaskan organisasi kepanduan ke seluruh dunia dengan cara menerbitkan buku berjudul “Scouting For Boys”. Melalui buku tersebut organisasi kepanduan mulai menyebar dan diterima dengan baik di beberapa negara dunia dibuktikan dengan didirikannya organisasi kepanduan di negara tersebut. Hingga pada puncaknya organisasi kepanduan telah menyebar ke seluruh dunia dengan berbagai tingkatan, yakin CUB yang diartikan sebagai “Anak Srigala” setara dengan golongan siaga (7-10 tahun), Scout Boys setara dengan golongan penggalang (11-15 tahun), Rovers Scout setara dengan golongan Penegak (16-20 tahun) Gerakan Pramuka serta mendirikan pula Girl Guides yang merupakan organisasi kepanduan putri dunia.

Mari kita lirik sejarah pandu di Negara tercinta ini, Penyebaran organisasi kepanduan di seluruh dunia cukup cepat. Di Indonesia, organisasi kepanduan diperkenalkan oleh Bangsa Belanda pada tahun 1912. Organisasi kepanduan bentukan negara Belanda tersebut bernama “Nederland-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV)” yang sebelumnya bernama “Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO)”. Sementara organisasi kepanduan yang dibentuk oleh bangsa Indonesia adalah “Javanese Padvinders Organisatie (JPO) atas prakarsa S.P Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Organisasi kepanduan begitu diterima dengan baik oleh bangsa Indonesia karena mengedepankan nilai-nilai pergerakan nasional, persatuan dan kesatuan serta patriotisme. Hal tersebut menjadi dasar menjamurnya organisasi kepanduan nasional baik bernafas kebangsaan maupun agama, sehingga mendorong Presiden Soekarno pada saat itu untuk melebur organisasi kepanduan menjadi Gerakan Pramuka akibat dikhawatirkan terjadinya pergolakan politik nasional.

Sejarah pandu sangatlah menarik untuk dikaji baik sejarah pandu dunia maupun sejarah pandu Indonesia yang notabene diperkenalkan oleh Belanda yang menjajah negeri kita kurang lebih 350 tahun lamanya. Tapi toh pandu yang kita kenal sekarang ini dengan sebutan gerakan pramuka bisa diterimah oleh bangsa Indonesia dengan baik, bahkan sekarang peraturan tentang grakan pramuka sudah dicantumkan dalam AD/ART serta Undang-undang No 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka itu sendiri.

Tidak hanya di Indonesia yang mengenalkan kepada generasi-genrasi mudahnya mengenai kepanduan secara cepat, tapi kepanduan atau pramuka ini juga di kenalkan oleh masyarakat Thailand kepada anak-anak usia dini pada jenang sekolah dasar untuk menciptakan generasi bangsa yang bermental kuat, jujur, terampil dan rela bekorban, sesuai dengan sumpah pramuka butir kelima, tidak hanya itu, mereka rela membuat patung dari Lord Robert Stevenson Smyth Baden Powel of Gilwell di sekolah mereka masing-masing demi mengenang jasa bapak pandu sedunia ini, walaupun kostum, gerakan, dan tata cara mereka berbeda dengan Indonesia tapi tujuan mereka memperkenalkan kepanduan kepada generasi muda mereka sama dengan Indonesia.

Kepemimpinan seperti yang dicontohkan Baden Powell menjadi suatu barang mahal untuk diimplementasikan di tengah globalisasi saat ini. Pun Gerakan Pramuka telah menyadari hal tersebut. Kader Gerakan Pramuka di seluruh nusantara mengalami krisis kepemimpinan yang paling subtansi yakni kepemimpinan akan diri sendiri (Self Leadershif) dalam menghalau arus deras globalisasi dan permasalahan pemuda saat ini, seperti seks bebas, narkoba, tawuran dan perilaku amoral lainnnya.

Melihat fenomena tersebut tidak salah jika program revitalisasi Gerakan Pramuka pun digelorakan sebagai upaya membenahi sistem pengaderan Gerakan Pramuka yang memiliki cita-cita luhur dalam membentuk kepribadian bangsa yang kokoh. Fenomena ini telah digambarkan dengan jelas oleh Baden Powell bahwa seorang pemuda memiliki labilitas yang cukup tinggi sehingga perlu dibentengi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat (Yang dimaksud Baden Powell adalah Kegiatan Kepanduan.)

Peran Gerakan Pramuka dituntut memberikan hasil nyata secara konkret sebagai organisasi yang berorientasi dalam mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosial dan fisiknya untuk menjadikan generasi muda Indonesia lebih baik. Pemuda bangsa sedapat mungkin disulap menjadi seorang pemimpin yang diharapkan kelak menjadi pioner masa depan bangsa.

*Penulis Adalah Mahasiswa UIN Alauddin yang Kini Sedang Berada di Thailand 

Degradasi Budaya Hormat Bugis Makassar

Oleh | Muh Fathul Amin
Kata-kata degradasi sangatlah diidentikkan dengan hal-hal yang negatif, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata-kata degradasi diartikan sebagai kemunduran, kemerosotan, penurunan, dsb (tentang mutu, moral, pangkat, dsb).

Mengacu kepada sejarah perdaban suku Bugis Makassar, banyak pakar sejarah dan pakar budaya yang mengatakan bahwa Suku Bugis Makassar memiliki budaya penghormatan yang sangat tinggi kepada orang yang lebih tua ataupun orang yang lebih muda, sebut saja salah satunya Prof Dr H A Mattulada  Prof Dr H A Mattulada seorang pakar budaya yang merupakan mahasiswa pertama fakultas sastra Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Dalam budaya Suku Bugis Makassar terdapat konsep ade’ atau adat, konsep adat atau ade’ menjadi rujukan utama hukum bagi suku Bugis Makassar, bahkan tercatat dalam sejarah Suku Bugis Makassar, masyarakat tradisional Suku Bugis Makassar mengacu pada konsep peng’ade’reng atau norma yang saling terkait satu sama lain. Kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional suku bugis makassar sangat memperhatikan adat istiadat, misalnya memperhatikan hubungan harmonis antar sesama manusia, hal tersebut bisa terlihat pada kebiasaan orang makassar ketika melewati orang yang lebih tua, mereka pasti menunduk setengah badan sambil mengatakan tabee’ yang dalam bahasa Indonesia berarti permisi, dan kemudian mengucapakan iye’ atau iya dengan nada yang lembut dan sopan, selain itu diajarkan pula untuk menghargai yang tua dan menyayangi uang muda.

Namun sangat disayangkan, di era moderen ini adat istiadat Bugis Makassar yang dulu sangat terkenal dengan kesopanan, kelembutan dan keramahan masyarakatnya tidak bisa bertahan melawan arus pergulatan budaya yang terus mengalir, contohnya saja anak-anak sekolah mulai dari sekolah dasar sampai tingkat mahasiswa yang hidup di era moderen ini, sangat sulit mendapatkan anak-anak remaja Bugis Makassar yang menerapkan adat istiadat sukunya yang dulu sangat terkenal dengan kesopanannya. Di sekolah-sekolah bahkan di perguruan tinggi sekalipun sangat sulit mendapatkan mahasiswa yang tetap eksis menerapkan adat istiadat mappa’ tabe’ ini, ketika mereka berpapasan dengan dosennya contohnya, mereka hanya mengatakan hai, atau apakabar pak/bu?, yang lebih ironis lagi mereka tidak menyapa dan berjalan dengan entengnya seakan-akan orang yang dia jumpai bukanlah dosen atau guru yang telah memberikannya ilmu pengetahuan. Sungguh disayangkan perilaku mahasiswa yang seperti ini.

Seakan-akan adat istiadat mappa’ tabe’ sudah sirna ditelan bumi, dikarenakan minimnya orang yang mempraktikkan adat istiadat ini, degradasi hormat yang dibahasakan penulis sangatlah jelas, yang di mana dulunya suku Bugis Makassar sangat terkenal dengan kesopanan, kelembutan dan keramahan masyarkatnya sekarang sudah sudah sulit untuk ditemukan di kehidupan sehari-hari. Bahkan sekarang Suku Bugis Makassar sudah terkenal dengan kekerasan, dan penindasan. Contoh yang sangat kongkrit dikalangan mahasiswa yaitu tawuran antar jurusan, antar suku dan lain sebagainya. Di Pulau Jawa Mahasiswa Makassar sangat tekenal dengan tawurannya, entah kenapa, apakah ini salah satu dari dampak degradasi budaya hormat yang terjadi sekarang ini.?

Hal ini sangat dirasakan perbedaannya ketika berkunjung ke negara tetangga, yaitu Thailand, negara yang memiliki warna bendera merah, putih dan biru ini sangat menerapkan budaya hormat kepada orang yang lebih tua dari mereka, apalagi kepada yang namaya guru, guru adalah pekerjaan yang sangat terpandang di Thailand, profesi ini sangat mulia sanagat dihormati oleh semua orang di Thailand.

Negara yang meganut sistem pemerintahan (sistem kabinet) parlementer ini selalu mengajarkan kepada generasi-generasi mudanya untuk tetap menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, ketika berada di tempat-tempat umum seperti sekolah dan univesitas, anda bisa merasakan betapa kentalnya budaya hormat yang mereka pertahankan ditengah arus globalisasi yang mengancam budaya mereka, salah satu yang menjadi benteng untuk mempertahankan budaya mereka adalah memperkenalkan kepada anak-anak mereka lebih awal bagaimana menghormati dan menyayangi orang di sekeliling mereka, di sekolah dasar contohnya mereka diajari untuk mengatkan sawasdee khap untuk laki-laki dan sawasdee kha untuk perempuan yang dalam bahasa Indonesia berati sapaan kepada siapa saja (hy), meraka diajari setiap bertemu dengan guru mereka harus singgah sejenak dan mengatkan sawasdee khap/kha kepada guru mereka sambil menaruh kedua tangan mereka di bawah dagu dan menundukkan kepala di hadapan guru mereka seraya mengeluarkan senyum yang indah. Begitu indah sapaan mereka terhadap orang di sekitar mereka, tidak heran jikalau Thaliand dijuluki island of smile atau dalam bahasa Indonesia berarti pulau senyum.

Belum lagi hari Guru Nasional Thailand yang jatuh tepat pada tanggal 15 Januari 2014 lalu, hari ini adalah hari yang sangat di dinanti-nantikan oleh guru di tanah thailand, di setiap tanggal 15 Januari seluruh sekolah di Thailand mengadakan kegiatan untuk memperingati hari guru nasional mereka, dalam acara memperingati hari guru nasional semua siswa harus memberikan bunga kepada semua guru dengan cara berjalan di depan guru mereka dengan memakai lutut, setelah sampai di depan guru mereka, mereka memberikan bunga lalu bersujud pas di depan kaki guru mereka, sungguh penghormatan yang sangat tinggi kepada profesi yang sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa ini.

*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, UIN Alauddin Makassar Semester V.

Sumber gambar: http://www.banphemarket.com/

Lengkap, Birokrasi Febi Dilantik

Laporan | Kartika Yusuf/Mag
Washilah Online--Pelantikan Wakil Dekan (WD) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) oleh Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Dr H A Qadir Gasing HT M S di Lantai 4 Rektorat, senin (03/02/2014) setelah pemilihan melalui rapat senat , senin (20/01/2014) bulan lalu. Pelantikan ini disaksikan oleh Dekan FEBI, Prof Dr H Ambo Asse Mag.

Sebagai Fakultas termudah yang lahir dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), FEBI diharapkan tetap menjalin silatuhrahmi ke FSH. “agar hubungan persaudaraan tetap terjalin, dalam pembuatan gedung agar kiranya tetap disekitar FSH,” ujar Rektor.

Dalam sambutannya rektor berpesan ke pejabat yang baru saja dilantik agar mematuhi segala aturan yang telah ditetapkan birokrasi. Mengetahui dan menghapal aturan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Rektor melanjutkan bahwa sorang pejabat harus bekerja 7 jam/hari. Bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk fakultas, karena fakultas akan tergerak jika orang yang berada didalamnya bergerak. Pejabat juga harus sinergitas dalam melakukan kegiatan agar memberikan manfaat baik untuk dosen maupun mahasiswa.

Diakhir sambutannya Rektor berharap kepada Dekan dan WD FEBI untuk memikirkan membuka Bank Islam, agar bukan hanya teori dan praktek yang dijalankan melainkan mampu menciptakan lembaganya.

Rektor Titip Tiga Amanah Kepada WD FEBI

Oleh | Syaefullah/Mag
Washilah Online--Setelah melantik tiga Wakil Dekan (WD) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), diruangan pelantikan lantai empat Rektorat, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Dr H A Qadir Gassing HT Ms, menitip 3 amanah Kepada, Dr H Muslimin MA, WD I, Dr H Abd Wahab SE MSi, WD II, Drs Syahruddin MSi, WD III, Senin (03/02/2014).

Sebelum menyampaikan 3 titipan amanahnya, terlebih dahulu ia meminta kepada Prof Dr Ali parman M Ag, dekan Fakultas Syari'ah dah Hukum, untuk ikhlas melepas berpisahnya FEBI dari payung FSH, yang beberapa tahun lalu FEBI dan FSH satu Fakultas dan satu dekan FSH. "Saya minta kepada dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum untuk ikhlas melepas FEBI,"pintanya diatas mimbar depan dekan FSH.

Dalam sambutannya, Prof Dr H A Qadir Gassing HT Ms, menyampaikan tiga catatan kecil yang diamanatkan kepada ketiga WD FEBI, "Pertama, sebelum duduk di kursi jabatan, harus dibaca dulu seluruh aturan-aturan dan manajmen FEBI, utamanya aturan tugas jabatannya masing-masing. kedua, harus bekerja minimal 7 jam sehari, masuk jam 07:30, pulang jam 04:00, kalupun ada halangan, sehingga masuk jam 8 atau lewat, maka harus ditambah juga waktu pulangnya dari jam 4. ketiga, pelayanan prima dalam artian kampus ini harus melayani Masyarakat dengan baik," pesannya.

Selain itu, ia juga menghimbau seluruh dekan Fakultas yang ada dalam kampus UIN Alauddin untuk memberikan perhatian lebih kepada FEBI yang masih muda, "Mari kita membantu Fakultas termuda itu", tambahnya
.

BEM FSH Ancam Pecahkan Piring, Dekan: Jangan Coba-coba

Oleh | Andriani/Mag
Washilah Online--Pelantikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sejajaran oleh dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) di Lecture Theature (LT) FSH, Kamis (30/01/2014.) Ketua BEM FSH terpilih, Khaidir Hasram, saat memberikan sambutan mengibaratkan bahwa Fakultas sebagai Rumah kami, para pimpinan didalamnya sebagai orangtua kami dan kami sebagai anaknya.

“Jangan salahkan anak ketika mengamuk dirumah sendiri dengan memecahkan gelas dan piring karena tidak diberikan haknya,” kata khaidir

Dekan FSH, Prof Dr Ali Parman MA, saat memberikan sambutan juga menanggapi perkataan dari ketua BEM baru bahwa tidak akan ada perpecahan piring jika semua dibicarakan sebaik-baiknya.

“Jangan coba-coba melakukan pecah piring, saya kecil-kecil begini tetapi kalau dihadapkan, semuanya kelihatan kecil”tegasnya.

Sumber Gambar: Google

Sabtu, 01 Februari 2014

Seminar Sehari Entreprenuership

Oleh | Astrid Rosalina/Mag
Washilah Online--Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar mengadakan Seminar Sehari Entreprenuership bekerja sama dengan Subhan Yusuf, Direktur Utama Harian Rakyat Sulsel dan Drs H Puspo Wardoyo, Owner RM Wongsolo Group. Senin(03/02).

Ketua Jurusan Manajemen Dakwah mengatakan bahwa tujuan diadakannya seminar ini untuk menginspirasi para mahasiswa dan melakukan inovasi, kreatifitas dalam usaha sebagai bentuk keterampilan dalam hidup inin serta seminar ini telah direncanakan untuk bekerja sama dengan Harian Rakyat Sulsel dan RM Wongsolo Group.

"Kerja sama dengan Harian Rakyat Sulsel dan RM Wongsolo Group dalam rangka untuk mahasiswa kita. Jadi, jika ada magang ataupun pelatihan, kedua tempat itu bisa ditempati." ujar Dr Misbahuddin, M.Ag selaku koordinator.